SIAPA
BILANG LIBURAN
KE
BALI ITU MAHAL
BACKPACKER IN BALI
Oleh: Leo Saragih
(Backpacker Siantar/
Backpacker Batak)
Surabaya
Bali yang juga sering disebut dengan
Pulau Dewata merupakan pulau impian bagi wisatawan, baik itu wisatawan dari
domestic maupun wisatawan mancanegara, karena Bali dikenal dengan budayanya
yang unik dan pantainya yang indah. Banyak orang berpikir bahwa bewisata ke
Bali akan membutuhkan biaya yang besar, sehingga banyak orang yang mengganggap
berwisata ke Bali adalah hanya sekedar impian atau hayalan.
Cerita ini ditulis dikarenakan
pemikiran yang menyatakan wisata ke bali itu mahal. Dengan modal pengalaman
touring backpacker kami ke Bali kami menyusun artikel ini. Perjalan ini
dilakukan pada Agustus 2011.
Perjalanan ini dimulai dari adanya
keinginan saya (Leo Saragih) dan teman saya (Herwin Simangungsing) untuk
berwisata ke Bali. Dengan modal Rp.700.000,- kami berniat untuk berwisata ke
Bali dengan Touring Backpacker. Adapun yang kami persiapkan sebelum berangkat
dari kota Surabaya ialah:
1.
Sepeda
Motor (Jup MX) yang telah diservice dan segala komponennya sudah di pastikan
baik, dari rem, rantai, mesin, dan sebagainya. Tidak lupa juga helm standar
SNI.
2.
Tenda
sebagai rumah atau penginapan saat berada di Bali.
3.
Uang
sebesar Rp. 700.000,-
4.
Pakaian
secukupnya yang kami kepak di dalam ransel 35L.
5.
Peta
Jawa – Bali dan Peta Wisata Bali.
Perjalanan pun dimulai jam 16.00 WIB dari
Surabaya. Dengan mengikuti jalur pantura kami melaju dengan kecepatan
60-100km/jam dan beristirahat hanya saat berhenti di SPBU untuk mengisi
bahanbakar. Adapaun pengisian yang dilakukan dari Surabaya- Bali adalah
sebanyak 5 kali dengan pengisian full
20rb.
Sesampainya di Pasuruan, kami berhenti
sejenak untuk membeli bekal makanan yaitu nasi goreng dibungkus yang ada
dipinggir jalan. Sesampainya disitubondo, kami pun berhenti sejenak untuk
mengisi perut sekaligus mengistrahatkan mesin motor.
Pejalanan pun kami lanjutkan melewati Jawa
Power yang sangat indah dipandang dikarenakan cahaya lampu yang begitu banyak
di kawasan jawa Power. Hutan gelap dan mencekam pun menjadi rute berikutnya.
Dengan hati-hati dan selalu waspada, kami terus meluncur melewati hutan gelap
dan sepi menuju bayuwangi. Jam menunjukkan pukul 23.30 Waktu bayuwangi, kami
sampai di Pelabuhan Ketapang Bayuwangi. Dengan membayar biaya transport Kapal
dan orangnya (Rp.16.000,-) dan pemeriksaan KTP dan surat-surat kendaraan, kami
pun masuk ke kapal feri yang akan berangkat menuju Pelabuhan Gilimanuk Bali.
Setengah jam lamanya perjalanan Kapal
menyebrangi selat Bali ditemani dengan suara takbiran bergema di kapal. Kami memanfaatkan perjalanan dengan kapal ini
dengan istirahat dan merebahkan badan di kursi Kapal. Sesampainya digilimanuk,
kami melanjutkan perjalanan dengan mengikuti jalur selatan Pulau Bali. Pukul
02.30 waktu di jam tangan, kami sampai di Tanah Lot bali. Dengan pemikiran akan
beristirahat disana setelah sebelumnya ditolah beristirahat di SPBU, kami
semangat untuk masuk. Ternyata Pantai Tanah Lot tidak dibuka pada Pagi hari,
dikarenakan disini bukanlah daerah sunrise atau matahari terbit, sehingga
dengan sedikit kecewa, kamipun kembali melanjutkan perjalanan menuju Pantai
Sanur. Saya pun menyerahkan kemudi kepada Herwin teman saya. Setelah meluncur
melewati jalan sempit dan sedikit rusak kurang lebih 30menit, saya pun
memutuskan mengambil kendali kemudi karena saya melihat herwin sudah ngantuk
dan membawa sepeda motor dengan oleng-oleng. Hehe..
Kamipun melanjutkan perjalanan menuju Pantai
Sanur dengan mengikuti petunjuk arah yang ada. Kondisi saya yang juga sedikit
ngantuk membuat kami saya beberapa kali terkejut saat ada kendaraan lain yang
akan berpapasan dengan kami. Jam 03.30 kami sampai di pantai Sanur. Dengan
semangat untuk tidur dan istirahat kami pun menuju parkiran dan langsung
menggembok sepeda motor dan langsung menuju pantai. Kamipun langsung mendirikan
tenda mungilku dipinggir pantai. Lalu setelah menikmati dini hari pantai sanur,
kami pun beristirahat didalam tenda. Letihnya pejalanan membuat kami tertidur
pulas kurang lebih 3 jam.
Tampa disadari jam tangan menujukkan angka
07.00. saya pun mendengar suara-suara kerumuna orang dari luar tenda. Setelah
saya membuka pintu tenda, saya baru sadar bahwa telah banyak orang yang bermain
di pantai sanur, dan kami baru sadar bahwa sekarang bukanlah jam 07.00
melainkan jam 08.00 karena bali memiliki perbedaan waktu 1 jam dengan Surabaya.
Hari ke-2 liburan ini kami nikmati setengah
hari di pantai sanur. Seorang penjaga pantai menghampiri kami dan bertanya, Bli
(sapaan laki” muda di bali) “disisni bersemedi atau apa dek?” lalu kami
menjawab “kami hanya camping Bli, kebetulan nyampai dini hari tadi jadi
langsung diriin tenda disini Bli, gapapa kan bli?.” Lalu Bli menjawab, “gapapa
kok dek, saya pikir tadi bersemedi seperti adat bali.” Lalu kami pun ngobrol
mengenai budaya dan wisata Bali. Setelah siang hari, kami memutuskan untuk
berkeliling kota Denpasar dan singgah di mall dali hanya buat bersih-bersih di
toilet mall, karena lebih murah disbanding kamar mandi di Pantai. Kami juga
menuju nusa dua. Dengan asumsi akan menikmati pantai nusa duadan berbagai
permainannya. Sesampai disana, kami dikejutkan dengan mahalnya harga segala
jenis permainan disana. Dengan langkah malu dan teratur, kamipun diam-diam
pergi dari sana. Hehe..
Setelah malam hari kami makan malam di depan
kampus UDAYANA Denpasar. Nasi jingo pun menjadi pilihan hemat dan kenyang.
Dengan harga rp.2.500,-/bungkus, kami membeli empat. Setelah kenyang, kamipun
kembali ke Sanur buat nenda. Sesampai disanur, kami heran karena banyak
pengunjung di pantai. Ternyata banyak pasangan muda-mudi yang berpacaran
disana. Kami pun mendirikan tenda lebih ke pinggir dan agak jauh dari pantai
dan kami pun istirahat. Jam 04.30 waktu bali, kami pun bangun untuk menikmati
sunrise di pantai sanur dengan hanya membuka jendela tenda. Teman-teman dari
semarang yang kebetulan berlibur dibali berbagi cerita dengan kami dan
melakukan foto bersama di tenda mungilku.
Pejalanan hari ke-3 kami gunakan dengan
berkunjung kerumah teman kampus Herwin yang berada di daerah Gianyar Bali.
Dengan bermodalkan peta dan bertanya kepada masyarakat Bali. Sesekali kami
berhenti di Indomaret untuk berisrtirahat, beli minuman dan mempelajari rute
pada Peta.
Sukawati merupakan tempat kami
beristrahat dalam perjalanan itu dan kami memilih untuk mengisi perut yang
sudah mulai lapar. Saat diwarung makan pinggir jalan, kami pun menganbil nasi
bungkus yang di letakkan di meja warung. Saat kami akan membuka makanan, ibu
penjaga warung menjumpai kami dan berkata, “maaf mas, dari jawa ya?, itu haram,
Babi guling”. Lalu kami menjawab, “ gapapa bu, kami non muslim kok.”. karena
ibunya melihat plat kendaraan kami yaitu “L” dari Surabaya, dan kami bukan
muslim. Selesai makan, kami minum the hangat, dan hanya dikenakan Rp.
6.000,-/orang. Murah kan…?!!
Kami melanjutkan perjalanan,
ditengah perjalanan, beberapa kali kami menemui acara adat yang sedang
dilakukan di pinggir jalan di Bali. Kami pun melambatkan kendaraan sebagai rasa
hormat sekaligus menikmati acara adat budaya bali ini. Akhirnya kamipun sampai
dirumah teman kami. Kami disambut dengan ramah oleh ibunya dan dia. Ternyata,
makanan telah disediakan untuk kami. Terdapat Sate daging, Jagung rebus, Opor
ayam, dan sebagainya. Sangat disayangkan kami sudah makan sebelumnya sehingga
perut tidak bias dipaksa untuk makan banyak. Kamipun menikmati makanan yang
disediakan walaupun hanya sedikit yang kami bias makan karena sidah makan
sebelumnya.
Setelah mengobrol kuranglebih 1jam,
kami melanjutkan perjalanan menuju Pantai
Jimbaran untuk menikmati sunset. Malam ke-3 ini kami memilih untuk
bermalam dirumah salah seorang teman yang berasal dari sumatera utara dan
sekaligus mandi air tawar diasana, karena sudah 3 hari mandi air laut.. hehe..
Jam 06.00 waktu Bali, kami kembali
melanjutkan perjalanan dikari ke-4. Diawali dengan serapan nasi yang dijual
dipinggir jalan dengan harga dan kuantitas bersahabat, lalu dilanjutkan dengan
menuju Garuda Wisnu Kencana (GWK) Bali.
Di
GWK dengan membayar tariff masuk Rp 50.000,- kami bias menikmati pemandangan
pulau bali dari ketinggian, patung GWK yang nantinya akan menjadi patung
tertinggi di Dunia, Tugu Bom Bali, dan menikmati tari kecak di panggung budaya
GWK.
Setelah pusa menikmati wisata GWK,
kami melanjutkan perjalanan menuju Pantai DreamLand yang tidak jauh dari GWK.
Disana kami kembali bermain di pantai dan menanam diri dengan pasir. Tidak lupa
kami mendirikan tenda mungil kami sebagai tempat menyimpan barang-barng dan
sebagai kamar mandi. Beberapa pengunjung meminta ijin kepada kami untuk berfoto
dengan tenda mungil kami. Kebetulan tenda kami mungil dan lucu.. hehe..
Setelah puas mandi dan hari mulai
sore, kami segera menuju pantai Kuta untuk mandi laut lagi untuk menikmati
sunset. Sesekali mata melirik kearah wanita-wanita cantik yang berlalu-lalang
didepan kami.. haha..
Berencana
bermalam di pantai Kuta. setelah meminta ijin kepada penjaga pantai, ternyata
tidak diperbolehkan karena kondisi pantai kuta yang sangat ramai. Kami pun
memutuskan untuk berangkat ke Bedugul sore itu juga. Dengan udara yang sangat
dingin, kami meluncur menuju daerah dataran tinggi bali itu. Jalan yang
meliuk-liuk sekaligus menanjak pun menjadi tantangan selanjutnya. Sesampai di
Bedugul jam 10.00, kami memilih untuk mengisi perut deengan nasi goreng dan teh
panas. The panas pun tidak lagi terasa panas dikarenakan dinginnya cuaca.
Setelah perut terisi, kami meminta ijin kepada satpam bedugul untuk mendirikan
tenda didaerah parkiran bedugul. Dan ijinpun kami dapatkan dan kami langsung
mendirikan tenda. Dinginnya malam dan keletihan menuntun kami untuk lekas
tidur, setelah memakai baju berlapis, kaos kaki, dan jaket berlapis.
Tak terasa pagi hari ke-5 menyapa kami. Kami
bergegas menggulung tenda karena aka nada pengunjung yang berwista ke Danau
bedugul. Kami pun sejenak menikmati pemandangan di danau bedugul sambil
mengambil beberapa foto.
Kami melanjutkan perjalanan menuju pantai
singaraja. Sesampai di Singaraja, kami mengisi perut dengan makanan nasi bungkus
pinggir pantai dengan teh hangat.
Setelah
perut terisi, kami pun melanjutkan perjalanan menuju pantai lovina yang
terkenal dengan lumba-lumbanya. Tetapi kekecewaan kembali kami rasakan karena
kapal untuk melihat lumba-lumbanya hanya ada pada pagi hari. Kami pun hanya
bias mengambil beberapa foto di pura dekan pantai.
Kami memilih untuk pulang kejawa hari itu juga dikarenakan persediaan uang yang sudah menipis. Kami mengambil jalur utara pulau bali. Dengan menikmati suasana pantai utara bali, dan hutan lindung bali barat. Beberapa hewan berkeliaran dipinggir jalan raya dan tanpa sengaja kami melanggar seekor biawak yang tiba-tiba lewan didepan motor kami. Tetapi karena kami tidak terlalu kencang, biwak itupun masih selamat dan masih bias berjalan menuju hutan. Sesampainya di Pelabuhan Gilimanuk, kami langsung membayar tariff kapal yang sama dengan saat kami akan ke bali. Kami langsung menuju kapal dengan semangat. Ternyata kami menaiki kapal yang salah, dan kami pun langsung menuju kapal yang ditunjuk.
Sesampai
di Ketapang, kami memilih jalur selatan untuk menuju Surabaya. Jalur selatan
sangat tidak bersahabat bagi kami. Dengan kondisi badan yang letih, kami
melewati jalur yang mendaki, sepi, dan hutan belantara. Melewati kaki gunung
semeru. Sesampai di Jember, kami pun beristirahat di Universitas Jember (UNJEM)
dan mengambil beberapa foto dan kamipun mengisi perut disana.
Perjalananpun
kami lanjutkan menuju kabupaten lumajang dan kab.malang, jalan yang kurang
bersahabat membuat ban sepeda motor kami bocor ditengah tanjakan yang membuat
kami memaksa motor sekaligus mencari tambal ban yang masih buka jam 21.30. velg
motor pun menjadi korban karena akan rusak saat dipakai dengan ban bocor. Puji
Tuhan kami menemukan sebuah bengkel dan kami memohon agar mau menambal ban kami
yang bocor. Setelah menambal, kamipun membayar Rp 10.000,- untuk setiap lubang
yang ada. Lalu kami melanjutkan perjalanan. Dikarenakan sudah menunjkkan jam
11.00 melewati turen Kab.malang, kami tergelincir dikarenakan tikungan yang
dipenuhi pasir. Untng saja kami melaju dengan pelan sehingga hanya luka sedikit
aja dan motor masih aman. Kami memutuskan untuk beristirahat malam itu di kos
tem di Malang yang kebetulan kuliah di Unibraw malang.
Dsana
juga kami membersihkan luka dan mengisi perut dengan nasi goreng. Setelah cukup
istirahat, kami berkeliling kampus Unibraw dengan teman kami Ervi yang merupakan
teman tempat kami menginap.
Setelah
mengambil beberapa foto, kamipun pamitan pulang menuju Surabaya. Di tengah
perjalanan kamipun mengisi perut dengan nasi Padang. Lalu setelah menempuh dua
jam perjalanan, kamipun sampai di Surabaya dengan Selamat.
Perjalanan yang penuh kenangan dan
tak akan pernah terlupan. Semoga dengan cerita ini, teman-teman mendapat
inspirasi baru dalam perjalanan teman-teman.




























