Rabu, 03 Juli 2013

Wisata / Backpacker Murah Kebali

SIAPA BILANG LIBURAN
KE BALI ITU MAHAL
BACKPACKER IN BALI
 
Oleh: Leo Saragih
(Backpacker Siantar/ Backpacker Batak)

 Surabaya

            Bali yang juga sering disebut dengan Pulau Dewata merupakan pulau impian bagi wisatawan, baik itu wisatawan dari domestic maupun wisatawan mancanegara, karena Bali dikenal dengan budayanya yang unik dan pantainya yang indah. Banyak orang berpikir bahwa bewisata ke Bali akan membutuhkan biaya yang besar, sehingga banyak orang yang mengganggap berwisata ke Bali adalah hanya sekedar impian atau hayalan.
            Cerita ini ditulis dikarenakan pemikiran yang menyatakan wisata ke bali itu mahal. Dengan modal pengalaman touring backpacker kami ke Bali kami menyusun artikel ini. Perjalan ini dilakukan pada Agustus 2011.
            Perjalanan ini dimulai dari adanya keinginan saya (Leo Saragih) dan teman saya (Herwin Simangungsing) untuk berwisata ke Bali. Dengan modal Rp.700.000,- kami berniat untuk berwisata ke Bali dengan Touring Backpacker. Adapun yang kami persiapkan sebelum berangkat dari kota Surabaya ialah:
1.    Sepeda Motor (Jup MX) yang telah diservice dan segala komponennya sudah di pastikan baik, dari rem, rantai, mesin, dan sebagainya. Tidak lupa juga helm standar SNI.
2.    Tenda sebagai rumah atau penginapan saat berada di Bali.
3.    Uang sebesar Rp. 700.000,-
4.    Pakaian secukupnya yang kami kepak di dalam ransel 35L.
5.    Peta Jawa – Bali dan Peta Wisata Bali.
Perjalanan pun dimulai jam 16.00 WIB dari Surabaya. Dengan mengikuti jalur pantura kami melaju dengan kecepatan 60-100km/jam dan beristirahat hanya saat berhenti di SPBU untuk mengisi bahanbakar. Adapaun pengisian yang dilakukan dari Surabaya- Bali adalah sebanyak 5 kali  dengan pengisian full 20rb. 

Sesampainya di Pasuruan, kami berhenti sejenak untuk membeli bekal makanan yaitu nasi goreng dibungkus yang ada dipinggir jalan. Sesampainya disitubondo, kami pun berhenti sejenak untuk mengisi perut sekaligus mengistrahatkan mesin motor.
Pejalanan pun kami lanjutkan melewati Jawa Power yang sangat indah dipandang dikarenakan cahaya lampu yang begitu banyak di kawasan jawa Power. Hutan gelap dan mencekam pun menjadi rute berikutnya. Dengan hati-hati dan selalu waspada, kami terus meluncur melewati hutan gelap dan sepi menuju bayuwangi. Jam menunjukkan pukul 23.30 Waktu bayuwangi, kami sampai di Pelabuhan Ketapang Bayuwangi. Dengan membayar biaya transport Kapal dan orangnya (Rp.16.000,-) dan pemeriksaan KTP dan surat-surat kendaraan, kami pun masuk ke kapal feri yang akan berangkat menuju Pelabuhan Gilimanuk Bali.
Setengah jam lamanya perjalanan Kapal menyebrangi selat Bali ditemani dengan suara takbiran bergema di kapal.  Kami memanfaatkan perjalanan dengan kapal ini dengan istirahat dan merebahkan badan di kursi Kapal. Sesampainya digilimanuk, kami melanjutkan perjalanan dengan mengikuti jalur selatan Pulau Bali. Pukul 02.30 waktu di jam tangan, kami sampai di Tanah Lot bali. Dengan pemikiran akan beristirahat disana setelah sebelumnya ditolah beristirahat di SPBU, kami semangat untuk masuk. Ternyata Pantai Tanah Lot tidak dibuka pada Pagi hari, dikarenakan disini bukanlah daerah sunrise atau matahari terbit, sehingga dengan sedikit kecewa, kamipun kembali melanjutkan perjalanan menuju Pantai Sanur. Saya pun menyerahkan kemudi kepada Herwin teman saya. Setelah meluncur melewati jalan sempit dan sedikit rusak kurang lebih 30menit, saya pun memutuskan mengambil kendali kemudi karena saya melihat herwin sudah ngantuk dan membawa sepeda motor dengan oleng-oleng. Hehe..
Kamipun melanjutkan perjalanan menuju Pantai Sanur dengan mengikuti petunjuk arah yang ada. Kondisi saya yang juga sedikit ngantuk membuat kami saya beberapa kali terkejut saat ada kendaraan lain yang akan berpapasan dengan kami. Jam 03.30 kami sampai di pantai Sanur. Dengan semangat untuk tidur dan istirahat kami pun menuju parkiran dan langsung menggembok sepeda motor dan langsung menuju pantai. Kamipun langsung mendirikan tenda mungilku dipinggir pantai. Lalu setelah menikmati dini hari pantai sanur, kami pun beristirahat didalam tenda. Letihnya pejalanan membuat kami tertidur pulas kurang lebih 3 jam.
Tampa disadari jam tangan menujukkan angka 07.00. saya pun mendengar suara-suara kerumuna orang dari luar tenda. Setelah saya membuka pintu tenda, saya baru sadar bahwa telah banyak orang yang bermain di pantai sanur, dan kami baru sadar bahwa sekarang bukanlah jam 07.00 melainkan jam 08.00 karena bali memiliki perbedaan waktu 1 jam dengan Surabaya. 
Hari ke-2 liburan ini kami nikmati setengah hari di pantai sanur. Seorang penjaga pantai menghampiri kami dan bertanya, Bli (sapaan laki” muda di bali) “disisni bersemedi atau apa dek?” lalu kami menjawab “kami hanya camping Bli, kebetulan nyampai dini hari tadi jadi langsung diriin tenda disini Bli, gapapa kan bli?.” Lalu Bli menjawab, “gapapa kok dek, saya pikir tadi bersemedi seperti adat bali.” Lalu kami pun ngobrol mengenai budaya dan wisata Bali. Setelah siang hari, kami memutuskan untuk berkeliling kota Denpasar dan singgah di mall dali hanya buat bersih-bersih di toilet mall, karena lebih murah disbanding kamar mandi di Pantai. Kami juga menuju nusa dua. Dengan asumsi akan menikmati pantai nusa duadan berbagai permainannya. Sesampai disana, kami dikejutkan dengan mahalnya harga segala jenis permainan disana. Dengan langkah malu dan teratur, kamipun diam-diam pergi dari sana. Hehe..
 Setelah malam hari kami makan malam di depan kampus UDAYANA Denpasar. Nasi jingo pun menjadi pilihan hemat dan kenyang. Dengan harga rp.2.500,-/bungkus, kami membeli empat. Setelah kenyang, kamipun kembali ke Sanur buat nenda. Sesampai disanur, kami heran karena banyak pengunjung di pantai. Ternyata banyak pasangan muda-mudi yang berpacaran disana. Kami pun mendirikan tenda lebih ke pinggir dan agak jauh dari pantai dan kami pun istirahat. Jam 04.30 waktu bali, kami pun bangun untuk menikmati sunrise di pantai sanur dengan hanya membuka jendela tenda. Teman-teman dari semarang yang kebetulan berlibur dibali berbagi cerita dengan kami dan melakukan foto bersama di tenda mungilku.

Pejalanan hari ke-3 kami gunakan dengan berkunjung kerumah teman kampus Herwin yang berada di daerah Gianyar Bali. Dengan bermodalkan peta dan bertanya kepada masyarakat Bali. Sesekali kami berhenti di Indomaret untuk berisrtirahat, beli minuman dan mempelajari rute pada Peta.

Dalam perjalanan, kami melewati pasar seni Sukawati dan tempat konservasi burung di Ubud.


            Sukawati merupakan tempat kami beristrahat dalam perjalanan itu dan kami memilih untuk mengisi perut yang sudah mulai lapar. Saat diwarung makan pinggir jalan, kami pun menganbil nasi bungkus yang di letakkan di meja warung. Saat kami akan membuka makanan, ibu penjaga warung menjumpai kami dan berkata, “maaf mas, dari jawa ya?, itu haram, Babi guling”. Lalu kami menjawab, “ gapapa bu, kami non muslim kok.”. karena ibunya melihat plat kendaraan kami yaitu “L” dari Surabaya, dan kami bukan muslim. Selesai makan, kami minum the hangat, dan hanya dikenakan Rp. 6.000,-/orang. Murah kan…?!!
            Kami melanjutkan perjalanan, ditengah perjalanan, beberapa kali kami menemui acara adat yang sedang dilakukan di pinggir jalan di Bali. Kami pun melambatkan kendaraan sebagai rasa hormat sekaligus menikmati acara adat budaya bali ini. Akhirnya kamipun sampai dirumah teman kami. Kami disambut dengan ramah oleh ibunya dan dia. Ternyata, makanan telah disediakan untuk kami. Terdapat Sate daging, Jagung rebus, Opor ayam, dan sebagainya. Sangat disayangkan kami sudah makan sebelumnya sehingga perut tidak bias dipaksa untuk makan banyak. Kamipun menikmati makanan yang disediakan walaupun hanya sedikit yang kami bias makan karena sidah makan sebelumnya.
            Setelah mengobrol kuranglebih 1jam, kami melanjutkan perjalanan menuju Pantai  Jimbaran untuk menikmati sunset. Malam ke-3 ini kami memilih untuk bermalam dirumah salah seorang teman yang berasal dari sumatera utara dan sekaligus mandi air tawar diasana, karena sudah 3 hari mandi air laut.. hehe..
            Jam 06.00 waktu Bali, kami kembali melanjutkan perjalanan dikari ke-4. Diawali dengan serapan nasi yang dijual dipinggir jalan dengan harga dan kuantitas bersahabat, lalu dilanjutkan dengan menuju Garuda Wisnu Kencana (GWK) Bali.

Di GWK dengan membayar tariff masuk Rp 50.000,- kami bias menikmati pemandangan pulau bali dari ketinggian, patung GWK yang nantinya akan menjadi patung tertinggi di Dunia, Tugu Bom Bali, dan menikmati tari kecak di panggung budaya GWK.


            Setelah pusa menikmati wisata GWK, kami melanjutkan perjalanan menuju Pantai DreamLand yang tidak jauh dari GWK. Disana kami kembali bermain di pantai dan menanam diri dengan pasir. Tidak lupa kami mendirikan tenda mungil kami sebagai tempat menyimpan barang-barng dan sebagai kamar mandi. Beberapa pengunjung meminta ijin kepada kami untuk berfoto dengan tenda mungil kami. Kebetulan tenda kami mungil dan lucu.. hehe..
            Setelah puas mandi dan hari mulai sore, kami segera menuju pantai Kuta untuk mandi laut lagi untuk menikmati sunset. Sesekali mata melirik kearah wanita-wanita cantik yang berlalu-lalang didepan kami.. haha..


      Berencana bermalam di pantai Kuta. setelah meminta ijin kepada penjaga pantai, ternyata tidak diperbolehkan karena kondisi pantai kuta yang sangat ramai. Kami pun memutuskan untuk berangkat ke Bedugul sore itu juga. Dengan udara yang sangat dingin, kami meluncur menuju daerah dataran tinggi bali itu. Jalan yang meliuk-liuk sekaligus menanjak pun menjadi tantangan selanjutnya. Sesampai di Bedugul jam 10.00, kami memilih untuk mengisi perut deengan nasi goreng dan teh panas. The panas pun tidak lagi terasa panas dikarenakan dinginnya cuaca. Setelah perut terisi, kami meminta ijin kepada satpam bedugul untuk mendirikan tenda didaerah parkiran bedugul. Dan ijinpun kami dapatkan dan kami langsung mendirikan tenda. Dinginnya malam dan keletihan menuntun kami untuk lekas tidur, setelah memakai baju berlapis, kaos kaki, dan jaket berlapis.
Tak terasa pagi hari ke-5 menyapa kami. Kami bergegas menggulung tenda karena aka nada pengunjung yang berwista ke Danau bedugul. Kami pun sejenak menikmati pemandangan di danau bedugul sambil mengambil beberapa foto.


             Kami melanjutkan perjalanan menuju pantai singaraja. Sesampai di Singaraja, kami mengisi perut dengan makanan nasi bungkus pinggir pantai dengan teh hangat.


Setelah perut terisi, kami pun melanjutkan perjalanan menuju pantai lovina yang terkenal dengan lumba-lumbanya. Tetapi kekecewaan kembali kami rasakan karena kapal untuk melihat lumba-lumbanya hanya ada pada pagi hari. Kami pun hanya bias mengambil beberapa foto di pura dekan pantai.



Kami memilih untuk pulang kejawa hari itu juga dikarenakan persediaan uang yang sudah menipis. Kami mengambil jalur utara pulau bali. Dengan menikmati suasana pantai utara bali, dan hutan lindung bali barat. Beberapa hewan berkeliaran dipinggir jalan raya dan tanpa sengaja kami melanggar seekor biawak yang tiba-tiba lewan didepan motor kami. Tetapi karena kami tidak terlalu kencang, biwak itupun masih selamat dan masih bias berjalan menuju hutan. Sesampainya di Pelabuhan Gilimanuk, kami langsung membayar tariff kapal yang sama dengan saat kami akan ke bali. Kami langsung menuju kapal dengan semangat. Ternyata kami menaiki kapal yang salah, dan kami pun langsung menuju kapal yang ditunjuk.


Setengah jam perjalanan dengan kapal pun kami nikmati dengan melihat laut selat bali yang luas. 

Sesampai di Ketapang, kami memilih jalur selatan untuk menuju Surabaya. Jalur selatan sangat tidak bersahabat bagi kami. Dengan kondisi badan yang letih, kami melewati jalur yang mendaki, sepi, dan hutan belantara. Melewati kaki gunung semeru. Sesampai di Jember, kami pun beristirahat di Universitas Jember (UNJEM) dan mengambil beberapa foto dan kamipun mengisi perut disana.

Perjalananpun kami lanjutkan menuju kabupaten lumajang dan kab.malang, jalan yang kurang bersahabat membuat ban sepeda motor kami bocor ditengah tanjakan yang membuat kami memaksa motor sekaligus mencari tambal ban yang masih buka jam 21.30. velg motor pun menjadi korban karena akan rusak saat dipakai dengan ban bocor. Puji Tuhan kami menemukan sebuah bengkel dan kami memohon agar mau menambal ban kami yang bocor. Setelah menambal, kamipun membayar Rp 10.000,- untuk setiap lubang yang ada. Lalu kami melanjutkan perjalanan. Dikarenakan sudah menunjkkan jam 11.00 melewati turen Kab.malang, kami tergelincir dikarenakan tikungan yang dipenuhi pasir. Untng saja kami melaju dengan pelan sehingga hanya luka sedikit aja dan motor masih aman. Kami memutuskan untuk beristirahat malam itu di kos tem di Malang yang kebetulan kuliah di Unibraw malang.

Dsana juga kami membersihkan luka dan mengisi perut dengan nasi goreng. Setelah cukup istirahat, kami berkeliling kampus Unibraw dengan teman kami Ervi yang merupakan teman tempat kami menginap.

Setelah mengambil beberapa foto, kamipun pamitan pulang menuju Surabaya. Di tengah perjalanan kamipun mengisi perut dengan nasi Padang. Lalu setelah menempuh dua jam perjalanan, kamipun sampai di Surabaya dengan Selamat.
            Perjalanan yang penuh kenangan dan tak akan pernah terlupan. Semoga dengan cerita ini, teman-teman mendapat inspirasi baru dalam perjalanan teman-teman.

Salam Ransel…